Pernahkah Anda membaca puisi Footprints in the Sand? Puisi ini sangat populer tahun 90-an di kalangan gereja. Banyak posternya dijual di toko buku rohani. Cerita yang mengharukan mengenai jejak kaki di pantai berpasir yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Ini lengkapnya:One night a man had a dream. He dreamed he was walking along the beach with the LORD. Across the sky flashed scenes from his life. For each scene he noticed two sets of footprints in the sand: one belonging to him, and the other to the LORD.
When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand. He noticed that many times along the path of his life there was only one set of footprints. He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times in his life.
This really bothered him and he questioned the LORD about it: "LORD, you said that once I decided to follow you, you'd walk with me all the way. But I have noticed that during the most troublesome times in my life, there is only one set of footprints. I don't understand why when I needed you most you would leave me."
The LORD replied: "My son, my precious child, I love you and I would never leave you. During your times of trial and suffering, when you see only one set of footprints, it was then that I carried you."
Dulu cerita ini sangat menginspirasi dan menguatkan saya. Saat kesulitan datang ada penghiburan karena saya tidak sendirian. Tuhan menggendong saya. Jejak kaki hanya satu pasang. Bukan saya yang menjejak di pasir. Istilah rohaninya Tuhan yang bekerja dan saya bersandar di punggungnya. Sangat menghibur bukan?
Namun, kini setelah mencemplung ke dalam realita. Nyatalah bagi saya bahwa puisi diatas adalah kepingan kecil dalam figura mozaik pemikiran dalam gereja. Pemikiran yang membius umat. Yang membuat umat bisa melupakan sejenak permasalahan dalam hidupnya. Tak ubahnya obat bius. Mungkin itu sebabnya Karl Marx menyebut agama itu opium atau candu. Umat beragama tak ubahnya seorang pemadat yang lelah menghadapi realita. Mereka berbondong-bondong mencari Tuhan yang memberi mereka ketenangan. Kalau pemadat menghisap candu, umat beragama beribadah lebih sungguh-sungguh. Saya dulu begitu.
Lalu, apakah kemudian permasalahan menjadi selesai? Sebagian iya. Mungkin karena Tuhan memang baik dan penuh kasih sayang. Tetapi ada masalah yang tak akan pernah selesai tanpa kita terjun langsung untuk mengatasinya. Masalah yang hanya selesai kalau kita berpeluh, bersusah payah, dan berdarah-darah disana. Itulah realita yang banyak dihindari oleh umat sehingga lari pada simbol-simbol agama. Realita yang baru saya sadari beberapa tahun belakangan.
Beribadah sungguh-sungguh sampai habis waktu? Silakan. Berdoa jungkir balik agar Tuhan bekerja? Silakan. Saya percaya tetap ada dampak dari pencarian "wajah Tuhan" model seperti itu. Tetapi, jangan hanya mengandalkan itu. Dampaknya akan kecil jika kita menjadikan ibadah sebagai pelarian dari kenyataan hidup. Hidup tidak akan berubah kalau kita terus menerus melarikan diri dari kenyataan.
Berdoa minta Tuhan menolong. Minta Tuhan bekerja. Minta mujizat terjadi. Itu semua istilah-istilah yang dipakai untuk melarikan diri. Artinya bukan kita yang mengerjakannya, tapi Tuhan. Persis seperti apa yang tertulis dalam puisi diatas, bukan? Satu pasang jejak. Bukan jejak kita.
Puisi itu tidak lagi menguatkan saya seperti dulu. Saya ingin merubah ending-nya. Di saat terendah dalam hidup saya hanya ada satu pasang jejak. Dan ketika saya bertanya kepada Tuhan mengapa. Dia menjawab,"Anak-Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu. Satu pasang jejak yang kaulihat memang jejakmu. Aku menjauh saat itu karena Aku tahu bahwa engkau bisa mengatasinya. Justru di saat-saat seperti itu engkau membuat-Ku bangga dengan tetap tegak dan menapaki hidupmu dengan berani."
http://en.wikipedia.org/wiki/Footprints_(poem)



